22/11/11

Merenung

"Seseorang yang mencurahkan diri untuk merenung, dapat mengetahui segalanya sebagaimana adanya."



Merenung adalah sebuah kegiatan manusia. Walau kegiatan tersebut terlihat tidak penting dan memang tidak dijadikan sebagai hobi oleh sebagian besar manusia di muka bumi ini, toh nyatanya merenung adalah kegiatan manusia yang sangat manusiawi.

Sepintas Merenung memang seperti Melamun. Seseorang yang melakukannya tampak secara kasat mata, hanya seperti diam dan seolah tak peduli dengan kegiatan sekitar. Tapi tidak akan sama ketika kita 'melihat' jauh ke dalam alam pikir kegiatan tersebut. Keduanya sangat bertolak belakang.

Melamun adalah kegiatan yang membuang - buang waktu. Diam secara inderawi namun pikiran kita tetap berkelana mencari - cari kesenangan. Seringnya dalam lamunan yang terlintas dibenak adalah sesuatu yang kita sukai saja hingga seolah kenyataan dan khayalan merupakan dua momen yang sama sulit dibedakan. Berapa banyak dari manusia di bumi yang hidupnya terus berkhayal hingga usia mereka mencapai dewasa. Sudah bertambahnya usia seharusnya semakin menambah kedewasaan tapi ini justru malah seringkali orang 'dewasa' bertingkah kekanak-kanakan. Orang - orang yang punya hobi melamun inilah yang pada akhirnya akan selalu terkaget - kaget dengan kenyataan dunia. Mereka seakan tidak peduli mengenai hidup nyata sebab khayalan memberikan kenikmatan yang lebih menyenangkan daripada kehidupan yang sering kali tidak adil.

Lain hal dengan Merenung. Secara raga memang sama - sama diam seperti Melamun, tapi coba pahami apa yang ada di alam pikir para perenung ini. Mereka bukan hanya diam semata - mata sedang mengingat momen yang menyenangkan itu. Mereka juga bukan sedang membuat fenomena di dalam alam pikir mereka. Mereka sudah jelas bukan sedang tenggelam akan kejadian yang mereka inginkan. Para perenung ini merenung tentang sesuatu hal yang mereka pikir mereka harus pahami. Mereka tidak pernah meninggalkan fenomena begitu saja tanpa perlu dimasukan ke alam pikir mereka yang peka akan sekitar. Sensitifitas mereka terhadap suatu hal begitu tinggi sehingga bagi sebagian besar manusia mungkin kepekaan para perenung adalah sesuatu hal yang lucu. Lucu bagi mereka yang tidak memahami pola pikir sang perenung, tapi bagi yang dianggap lucu itu justru merupakan sesuatu hal yang harus dilakukan.

Fungsi otak ialah untuk berpikir. Ada begitu banyak juta dendrit yang siap mengantarkan informasi untuk sang peminjam raga. Peminjam raga bukan pemilik raga. Begitulah kenyataannya. Sebab tubuh ini yang bervariasi bentuknya mulai dari cantik jelita hingga buruk rupa, besar sedang kecil, berkulit putih kuning cokelat kehitaman, berkelebihan hingga berkekurangan, segalanya hanyalah 'pinjaman' cuma - cuma yang diberikan oleh alam semesta. Raga ini tidak seperti kita meminjam buku diperpustakan, yang kalau cacat sedikit bisa kita tukar, maka jangan dipikir bisa menggantikan raga dengan cara terdaftar banyak asuransi jiwa. Raga ini tidak seperti kita membeli baju, yang bisa kita pilih - pilih sesuka kita, lalu kita miliki untuk beberapa lama dan akan kita sumbangkan kepada orang lain yang membutuhkan. Kalau begitu jadinya maka benar jika raga ini telah usang di makan waktu kita bisa membuangnya dan menggantinya yang baru.

Tubuh hadir sebagaimana adanya. Sampai kapanpun kita tidak akan bisa meminta yang kita inginkan sebab sudah menjadi sifatnya tubuh lahir, sakit, tua, kemudian mati. Kalau tubuh bisa menuruti kemauan kita maka kita akan bisa menyuruh tubuh ini melakukan hal yang kita sukai. Ketika lapar kita akan meminta tubuh ini berhenti lapar tanpa harus makan. Jika sedang sakit kita akan meminta tubuh kembali sehat tanpa perlu diagnosa penyakit. Dan lebih menyenangkannya lagi, jika kita sudah tua dan digerogoti ketakutan akan kematian, kita bisa meminta tubuh kembali muda sedia kala lalu kita bisa mengulang hidup ini lagi. Bagaikan seorang pemilik sejati terhadap benda kesayangannya, pasti akan mengharapkan bendanya itu tetap mengikuti kemauannya. Tapi bisakah demikan kita memperlakukan hal itu pada ragawi ini? Lantas kalau begitu percuma saja suntik botox guna mengelabui usia yang telah senja. Tidak ada gunanya sama sekali. Tubuh tetap hanya patuh pada pemilik sejatinya yaitu semesta.

Antara Logika dan Perasaan sering kali diartikan tidak sejalan. Banyak orang yang berkata demikian. Contoh nyatanya ketika kita jatuh cinta. Tanpa memandang status sosial dan mengingat sederet syarat mencari pasangan hidup, kita bisa saja terpleset jatuh ke dalam gelora asmara dengan siapa saja. Motivator selevel Mario Teguh pun selalu mengatakan bahwa "Cinta itu tidak buta, hanya saja Cinta MAMPU MELUMPUHKAN Logika." Ya, meskipun Logika dan Perasaan tidak sejalan, dalam urusan cinta keduanya seperti tampak satu harmoni. Begitu pula manusia atau makhluk - makhluk lainnya. Pada saat lahir ke dunia, bukan hanya tubuh yang hadir. Di kedalaman diri terdapat sesuatu yang abstrak dan sulit dijelaskan disebut pikiran. Pikiran ini tak kasat mata namun bisa dilihat jelas melalui ucapan dan tindakan individu. Pikiran ini menyangkut banyak aspek seperti sifat - sifat dasar makhluk berupa keinginan, keserakahan, emosi, dsb. Selain itu, Logika dan Perasaan sendiri merupakan bagian dari Pikiran.

Secara umum, Pikiran dimaksudkan adalah jiwa. Namun, jiwa sendiri seperti sebuah bagian abstrak dari diri yang tak bisa dibagi. Jiwa hanya Jiwa. Pikiran bukan begitu. Pikiran jauh lebih luas dan menyangkut individu itu sendiri yang sulit dijelaskan secara kasat mata sehingga seolah - olah yang saya bicarakan ini lebih menyerupai omongan kosong. Sayangnya saya bukan sedang beromong kosong ria karena sejatinya manusia hanya mampu melihat apa yang ingin dilihat bukan melihat apa yang sebenarnya ada, sehingga sering kali yang dikatakan omong kosong itu adalah kenyataan yang sesungguhnya ada. Tapi, karena kita belum sampai ke tahap 'melihat' kita jadi menyimpulkan bahwa segalanya itu adalah omong kosong.

Tubuh dan Pikiran adalah dua hal yang berbeda namun hadir utuh di dalam diri individu. Hukum pasti Tubuh ialah Lahir, Sakit, Tua, Mati. Pernyataan itu sudah pasti disetujui semua orang dan bagaimana dengan Pikiran? Sudah adakah kajian yang membahas hakikat Pikiran? Sudah pasti banyak yang merenungi mengenai hakikat pikiran, hanya saja terlampau rumit jika dijelaskan ke dalam bahasa manusia. Kebanyakan kosakata manusia ditujukan untuk hal yang kelihatan di mata dan hal yang tidak terlihat mata dianggap tidak masuk akal atau sulit untuk dibicarakan sehingga lebih asik jika direnungi dalam diam. Namun satu hal yang mampu dijelaskan oleh bahasa umum, Pikiran tidak mengenal hukum ketidak-abadian seperti Tubuh. Pikiran tidak Lahir, Sakit, Tua, ataupun Mati. Pikiran hanya bisa dua hal, berkembang atau menyusut. Semakin banyaknya informasi yang ditangkap oleh inderawi, semakin berkembang pula alam pikiran kita. Fenomena - fenoma tersebut kita artikan sebagai pengalaman dan pemahaman. Berkembangnya pikiran tidak akan membuat pikiran menjadi sakit ataupun mereka bilang overload. Pikiran demikian elastis sehingga dengan mudah pikiran dapat kita bentuk sesuai kemauan kita. Sesuai kemauan kita. Artinya kitalah yang membentuk Pikiran diri kita sendiri. Kitalah yang mengembangkan atau menyusutkan sesuai kehendak kita. Atau bahkan hingga ke tahap kitalah yang menciptakan Pikiran kita sendiri.

Kalau mengkaji Tubuh dalam ilmu anatomi saja sudah sangat rumit, Pikiran jauh lebih rumit lagi. Karena tidak bisa kita lihat lewat mata inderawi, maka pikiran hanya bisa kita amati melalui metode merenung. Lagi - lagi merenung yang dibicarakan. Ya bukan mengada - ada, merenung memang cara yang menurut saya sampai saat ini paling pas dilakukan ketika kita berusaha mendefinisikan Pikiran. Saat kita melakukan kajian tak kasat mata, mungkinkah kita bisa melakukan diskusi panjang lebar dengan orang disebelah kita? Tentu tidak. Kita tidak akan mungkin bisa berbincang panjang mengenai hal yang sulit kita cerna pakai inderawi. Kita hanya bisa merenung, merenung, dan terus merenung mengenai eksistensi pikiran.

Terakhir, tanpa bermaksud membuat bingung, semoga merenung bisa disepakati menjadi sebuah kegiatan manusiawi. Sebab tanpa merenung, kita akan terus mencari jawaban yang tidak akan bisa dijelaskan secara kasat mata.





Untuk semua para perenung,
baik pemula, pelaku lama, ataupun yang sudah ke tahap lebih dalam.

1 komentar:

  1. Mungkin merenung itu sama dengan bertapa yang dilakukan oleh raja-raja zaman dulu saat ingin mengambil kebijakan atau yang dilakukan oleh seniman saat mencari inspirasi. tapi bagaimana dengan para pekerja manufacturing yang jobdesknya sudah ditentukan oleh manajemen, apakah masih perlu merenung??? apakah merenung masih perlu untuk para pelajar yang pelajarannya sudah ditentukan oleh silabus dari dosen ataupun kurikulum dari Diknas.
    Merenung mungkin tidak bisa diaplikasikan di setiap kondisi,kecuali maksud ariya merenung = Berpikir, tapi terkesan lebih rileks.

    BalasHapus